Sistem Transportasi Pada Manusia

A.        Sistem Peredaran pada Manusia

1.             Darah

Sistem peredaran darah pada manusia merupakan sistem peredaran darah tertutup, karena darah dalam peredarannya selalu berada dalam pembuluh darah. Darah mempunyai fungsi sebagai berikut:

  1. Sebagai alat pengangkut
  2. Membunuh kuman-kuman penyakit
  3. Melakukan pembekuan darah
  4. Menjaga kestabilan suhu tubuh

Darah merupakan jaringan kompleks yang terdiri dari beberapa bagian. Sekitar 45% kandungan darah adalah sel-sel darah, sedangkan sisanya adalah plasma darah.

a) Plasma darah

Plasma darah terdiri dari atas:

  1. 90% air
  2. 8% protein darah yang terdiri dari albumin, hormon, globulin, protrombin, dan fibrinogen. Albumin penting untuk menjaga tekanan osmotik darah, hormon penting kerja fisiologi alat tubuh, globulin penting untuk membentuk zat kebal, protrombin dan fibrinogen penting untuk proses pembekuan darah.
  3. 0,9% mineral yang terdiri dari NaCl, Natrium bikarbonat, garam kalsium, fosfor, magnesium, dan besi.
  4. 0,1% berupa sejumlah bahan organik, yaitu glukosa, lemak, urea, asam urat, asam amino, enzim, dan antigen.

Jika plasma darah diendapkan, akan tersisa cairan berwarna kuning jernih yang disebut dengan serum. Di dalam serum inilah terkandung zat antibodi.

b) Sel-sel Darah

Sel-sel darah atau butiran darah terdiri atas eritrosit, leukosit, dan trombosit.

(1)                    Eritrosit

Bentuk eritrosit pipih, dengan garis tengah 7,5 µm, cekung di bagian tengahnya, dan tidak berinti. Setiap 1 mm3 darah mengandung ±5 juta sel darah merah. Butir darah merah mengandung hemoglobin yang berfungsi untuk mengangkut oksigen dari paru-paru dan mengedarkannya ke seluruh jaringan tubuh.

Sel darah merah dibentuk oleh sumsum merah tulang pipih akan tetapi, saat masih dalam kandungan, eritrosit dibentuk di dalam hati dan limpa. Sel darah merah menjadi usang dan tidak efektif lagi melaksanakan fungsinya setelah berumur lebih kurang 120 hari. Oleh hati dan limpa, sel darah tersebut dirombak. Di hati, hemoglobin akan diubah menjadi zat warna empedu (bilirubin) yang berwarna kehijau-hijauan. Zat warna empedu berguna untuk membentuk emulsi lemak. Zat ini dikeluarkan ke saluran empedu yang bermuara di usus. Zat besi yang terdapat di hemoglobin tidak ikut dikeluarkan, melainkan digunakan lagi untuk membuat eritrosit baru.

Penyumbatan saluran empedu dapat terjadi karena infeksi atau karena kerusakan sel-sel hati, yang menyebabkan empedu beredar bersama aliran darah. Inilah yang menyebabkan seseorang menderita kuning. Penyakit kuning dapat disebabkan oleh virus hepatitis atau oleh infeksi lainnya.

(2)                    Leukosit

Dalam setiap mm3 darah terdapat 8000 sel darah putih. Sel darah putih tidak berwarna, bersifat bening, dan bentuknya tidak tetap. Ukurannya lebih besar dari eritrosit, tetapi jumlahnya lebih kecil. Garis tengahnya antara 9-15 µm. Sel ini mempunyai fungsi utama untuk melawan kuman yang masuk ke dalam tubuh dan membentuk zat antibodi. Antibodi adalah zat pelawan benda asing (antigen) yang masuk ke tubuh. Sel darah putih merupakan sel fagosit, apabila ada bibit penyakit, misalnya bakteri, sel darah putih akan memakannya. Tetapi apabila sel darah putih kalah dan rusak, maka sel darah putih bersama-sama kuman yang mati akan dikeluarkan dalam bentuk nanah.

Terdapat 5 macam sel darah putih yang bentuk, jumlah, dan fungsi berbeda. Kelima macam sel darah putih terbesut antara lain:

(a)                 Neutrofil

Neutrofil merupakan 60-70% dari jumlah sel darah putih. Neutrofil bergerak secara ameboid dari darah dan masuk ke jaringan yang terinfeksi, lalu menghancurkan mikroba yang ada. Neutrofil hanya berumur sekitar 6-20 jam.

(b)                 Monosit

Monosit terdapat sekitar 5% dari jumlah sel darah putih. Monosit beredar dalam darah selama beberapa jam, kemudian berpindah ke jaringan. Di dalam jaringan, monosit membesar dan berkembang menjadi makrofag. Makrofag merupakan sel fagositik terbesar, paling efektif, dan berumur panjang. Makrofag bersifat ameboid, dan dapat merentangkan pseudopodia untuk menarik mikroba. Mikroba yang terperangkap kemudian dihancurkan dengan enzim pencernaan.

Beberapa makrofag menetap di orakan dan jaringan tertentu. Misalnya di paru-paru ada makrofag alveolar dan di hati ada sel Kupffer. Makrofag ada juga di nodus limfa dan limpa.

(c)                  Eosinofil

Eosinofil kira-kira berjumlah 15% dari jumlah sel darah putih Eosinofil hanya sedikit bersifat fagositik tetapi mempunyai enzim penghancur. Eosinofil berfungsi untuk melawan parasit besar seperti cacing dengan cara menghancurkan dinding luar tubuh cacing.

(d)                 Basofil

Granula basofil mengandung histamin. Histamin adalah salah satu sinyal kimia yang akan dikirimkan jika terjadi luka dan peradangan. Basofil diduga terlibat dalam reaksi alergi atau melawan protein asing yang masuk.

(e)                  Limfosit

Vertebrata mempunyai dua macam limfosit, yaitu sel B dan sel T. Limfosit dibuat di sumsum tulang dan hati (pada fetus). Mula-mula, semua limfosit sama, tetapi kemudian berdiferensiasi menjadi sel B atau sel T, tergantung tempat pematangannya.

Limfosit berfungsi menghasilkan antibodi untuk melawan zat asing yang masuk.

(3)                    Trombosit

Di dalam darah terdapat keping-keping darah atau trombosit. Trombosit bentuknya tidak teratur, tidak berinti, dan berukuran kecil, garis tengahnya ±2-4 µm. Dalam tiap satu mm3 darah terdapat ±250.000-500.000 keping darah.

Trombosit berperan dalam proses pembekuan dara. Di dalam trombosit terdapat enzim yang disebut dengan trombokinase. Apabila darah keluar karena terluka, trombosit akan pecah. Enzim trombokinase keluar dari trombosit. Akibat pengaruh ion kalsium dalam darah, enzim trombokinase akan mengubah protrombin menjadi trombin. Trombin akan mengubah protein darah fibrinogen menjadi benang-benang fibrin, Terbentuknya benang-benang fibrin menyebabkan luka tertutup sehingga tidak mengeluarkan darah secara terus-menerus.

Protrombin adalah senyawa protein yang dibentuk di hati. Pembentukan senyawa ini dipengaruhi oleh vitamin K. Oleh sebab itu, seseorang yang kekurangan K akan mengalami kesulitan pembekuan darah jika terjadi luka.

********************************************

2.             Alat Peredaran Darah

a) Jantung

Jantung terletak di dalam rongga dada agak ke sebelah kiri. Ukuran jantung kira-kira sebesar kepalan tangan. Jantung manusia berongga dan terbagi menjadi 4 ruang, yaitu serambi kanan, serambi kiri, bilik kanan, dan bilik kiri.

Jantung diselubungi selaput ganda yang disebut perikardium. Dinding organ jantung tersusun terutama atas otot jantung. Antara serambi dan bilik dibatasi oleh suatu sekat yang berkatup. Katup sebelah kanan disebut katup trikuspid yang terdiri atas 3 kelopak., dan katup sebelah kiri disebut katup bikuspid yang terdiri atas 2 kelopak. Katup-katup tersebut berfungsi agar darah dari bilik tidak mengalir kembali ke serambi.

Otot jantung mampu berkontraksi sehingga jantung dapat mengembang dan mengempis.

Jantung memiliki pembuluh darah yang menuju atau keluar jantung, yaitu:

  1. Vena cava, yang mengalirkan darah dari seluruh tubuh, bermuara pada serambi kanan.
  2. Arteri pulmonalis, yang mengalirkan darah dari bilik kanan menuju ke paru-paru.
  3. Vena pulmonalis, yang mengalirkan darah dari paru-paru ke serambi kiri.
  4. Aorta, yang mengalirkan darah dari bilik kiri menuju ke seluruh tubuh.
  5. Arteri koronaria,

b) Pembuluh Darah

Berdasarkan fungsinya, pembuluh darah dibedakan menjadi 2 yaitu pembuluh nadi atau arteri, dan pembuluh balik atau vena. Pengangkutan antara arteri dan vena adalah pembuluh kapiler.

(1)                    Arteri

Arteri adalah pembuluh yang membawa darah keluar dari jantung. Letaknya agak dalam, bersembunyi dari permukaan tubuh. Dindingnya kuat dan elastis, terdiri dari tiga lapis.

Pembuluh nadi yang keluar dari bilik kiri jantung disebut aorta, yang mengalirkan darah kaya oksigen ke seluruh tubuh. Aorta ini disebut pula pembuluh nadi utama, yang kemudian bercabang menjadi pembuluh nadi ke seluruh tubuh.

Semua pembuluh nadi mengalirkan darah yang kaya oksigen, kecuali arteri pulmonalis. Arteri pulmonalis merupakan pembuluh nadi yang keluar dari bilik kanan menuju ke paru-paru. Pembuluh ini bercabang menjadi dua menjadi pembuluh nadi paru-paru kiri dan pembuluh paru-paru ke kanan. Pembuluh nadi ini membawa darah yang kaya CO2. Karbon dioksida dilepaskan oleh darah di paru-paru, sedangkan oksigen ditangkap oleh hemoglobin. Kemudian, darah yang kaya oksigen dialirkan oleh vena paru-paru menuju jantung, yaitu serambi kiri.

(2)                    Vena

Vena adalah pembuluh yang membawa darah menuju ke jantung. Darahnya banyak mengandung karbon dioksida, kecuali vena pulmonalis. Umumnya terletak dekat permukaan tubuh dan tampak kebiru-biruan. Dinding pembuluhnya tipis dan tidak elastis. Pembuluh vena memiliki katup sepanjang pembuluhnya.

Dari seluruh tubuh, vena bermuara menjadi satu pembuluh darah balik yang besar, yang disebut vena cava. Pembuluh darah ini masuk ke jantung melalui serambi kanan.

(3)                    Pembuluh Kapiler

Pembuluh kapiler hanya tersusun atas satu lapis sel endotelium. Dinding kapiler yang sangat tipis ini memang sesuai dengan fungsinya, yaitu untuk pertukaran zat.

Ujung pembuluh nadi yang terkecil dihubungkan oleh pembuluh kapiler. Pembuluh kapiler inilah yang berhubungan langsung dengan sel-sel tubuh. Oksigen dan zat-zat makanan dimasukkan ke dalam sel melalui pembuluh kapiler. Zat-zat ini digunakan sel untuk memperoleh energi dengan cara pembakaran. Selanjutnya, karbon dioksida, air, sisa-sisa pembakaran diambil, untuk diangkut ke paru-paru dan alat pengeluaran lainnya. Pengangkutan zat sisa ini juga dilakukan oleh pembuluh kapiler yang berhubungan dengan pembuluh balik.

**************

3.             Macam Peredaran Darah

Sistem peredaran darah manusia merupakan sistem peredaran darah tertutup dan sistem peredaran darah ganda. Setiap kali beredar, darah melewati jantung dua kali. Peredaran darah ganda terdiri atas peredaran darah kecil dan peredaran darah besar.

Peredaran darah kecil adalah peredaran darah yang dimulai dari jantung menuju ke paru-paru, kemudian kembali lagi ke jantung.

Peredaran darah besar ialah peredaran darah dari bilik kiri jantung ke seluruh tubuh, kemudian kembali ke serambi kanan jantung.

4.             Golongan Darah

(1)                    Sistem AB0 (baca: a, b, nol)

Orang yang pertama kali menggolongkan darah menurut sistem AB0 adalah Karl Landsteiner. Menurut sistem tersebut, darah dapat digolongkan ke dalam 4 golongan besar yaitu, A, B, AB, dan 0 (nol).

Orang yang kehilangan banyak darah memerlukan tambahan darah melalui transfusi darah. Orang yang memberikan darahnya disebut donor, sedangkan orang yang menerima darah disebut resipien. Apabila golongan darah donor tidak sesuai dengan golongan darah resipien, maka resipien akan menolak darah donor. Penolakan ini ditandai dengan penggumpalan darah (aglutinasi) yang dapat berakibat fatal bagi resipien.

Darah dapat menggumpal karena adanya aglutinogen dan aglutinin. Aglutinogen adalah zat protein darah yang dapat digumpalkan oleh aglutinin.

Aglutinogen A dapat digumpalkan oleh aglutinin α (anti A), dan aglutinogen B dapat digumpalkan oleh aglutinin β (anti B). Golongan darah A mengandung zat aglutinogen A dan aglutinin β. Golongan darah B mengandung aglutinogen B dan aglutinin α.

Golongan darah AB mengandung aglutinogen A dan B, dan tidak memiliki aglutinin, sehingga dapat disebut sebagai resipien universal (dapat menerima semua golongan darah) Golongan darah 0 mengandung aglutinin α dan β, dan tidak memiliki aglutinogen, sehingga dapat disebut sebagai donor universal (dapat ditransfusikan ke semua golongan darah).

Tapi, harus disadari, bahwa transfusi darah yang baik adalah transfusi yang sejenis.

(2)                    Faktor Rhesus (Rh)

Faktor lain yang penting dalam penggolongan darah adalah faktor Rhesus (Rh). Sekitar 85% manusia membawa faktor Rh positif (Rh+) dalam darahnya dan sisanya 15% Rh negatif. Jika Rh- diberi darah Rh+ dalam transfusi darah, maka resipien akan membentuk antibodi yang melawannya. Antibodi ini belum bekerja pada transfusi pertama. Antibodi ini bekerja pada transfusi Rh+ berikutnya dan akan menghancurkan sel darah Rh+ tersebut sehingga dapat membahayakan.

**********

B.            Sistem Peredaran Getah Bening

Sistem transpor di dalam tubuh manusia tidak hanya berupa darah dan peredarannya, tetapi juga berupa sistem peredaran getah bening atau limfa.

Sistem peredaran getah bening terdiri dari cairan limfa, pembuluh limfa, dan kelenjar limfa. Sistem peredaran getah bening berperan dalam transpor lemak dan pemberantasan penyakit.

1.             Cairan Limfa

Selama darah beredar dalam kapiler. Terdapat cairan sel darah putih yang merembes keluar dari kapiler darah. Cairan tersebut mengisi ruang-ruang antar sel, kemudian cairan tersebut masuk ke sistem limfatik, yaitu pembuluh getah bening atau pembuluh limfa. Cairan jaringan yang telah berada di dalam pembuluh getah bening ini berubah menjadi cairan limfa.

Cairan limfa yang mengandung sel darah putih ini berfungsi mematikan 0kuman penyakit yang masuk ke dalam tubuh kita. Selain itu, cairan limfa juga mengandung lemak. Lemak dari usus tidak diangkut melalui pembuluh darah, melainkan oleh pembuluh limfa. Di usus, pembuluh limfa ini disebut pembuluh kil.

2.             Pembuluh Limfa

Struktur pembuluh limfa mirip dengan vena kecil, tetapi memiliki lebih banyak katup sehingga pembuluh limfa tampak seperti rangkaian manik=manik. Pembuluh ini terletak terutama di sela-sela otot, mempunyai cabang yang halus dengan bagian ujung terbuka. Melalui ujung yang terbuka inilah cairan jaringan tubuh masuk ke dalam pembuluh limfa.

Pembuluh limfa dibedakan menjadi 2 macam, yaitu pembuluh limfa kanan dan pembuluh limfa kiri.

a) Pembuluh Limfa Kanan

Pembuluh limfa kanan berfungsi menampung cairan limfa yang berasal dari kepala, leher bagian kanan, dada kanan, dan lengan kanan. Pembuluh limfa ini bermuara di vena bawah selangka kanan.

b) Pembuluh Limfa Kiri

Pembuluh limfa kiri berfungsi menampung limfa yang berasal dari kepala, leher kiri, dada kiri, lengan kiri, dan tubuh bagian bawah. Pembuluh limfa kiri bermuara di vena bawah selangka kiri.

c) Peredaran Limfa

Peredaran limfa dimulai dari jaringan tubuh yang berupa cairan jaringan.  Cairan ini masuk ke pembuluh limfa halus menjadi cairan limfa. Selanjutnya, pembuluh limfa halus bergabung menjadi pembuluh limfa kecil. Beberapa pembuluh ini bergabung menjadi pembuluh limfa yang lebih besar dan seterusnya. Akhirnya, pembuluh getah bening itu bergabung ke dalam pembuluh limfa besar dan seterusnya.

Akhirnya, pembuluh getah bening itu bergabung ke dalam pembuluh limfa besar, yaitu pembuluh limfa kiri bermuara pada vena di bawah di selangka kiri. Sedangkan pembuluh limfa kanan bermuara pada vena di bawah selangka kanan.

3.             Kelenjar Limfa

Di sepanjang pembuluh limfa, terdapat beberapa kelenjar limfa, terutama pada pangkal paha, ketiak, dan leher. Kelenjar limfa atau buku limfa berfungsi untuk menghasilkan sel-sel darah putih dan menjaga agar tidak terjadi penjalaran infeksi lebih lanjut.

Di dalam tubuh juga terdapat alat tubuh yang fungsinya sama dengan kelenjar limfa, yaitu:

a) Limpa

Limpa adalah sebuah kelenjar yang berwarna ungu tua yang terletak di sebelah belakang. Fungsinya:

a. Tempat pembentukan sel darah putih

b. Tempat cadangan sel darah

c. Tempat pembongkaran sel darah merah yang sudah mati

d. Tempat membunuh kuman-kuman penyakit.

b) Tonsil

Tonsil adalah organ limfoid yang paling sederhana. Tonsil berfungsi untuk melawan infeksi pada saluran pernafasan bagian atas dan faring.

C.           Gangguan pada Sistem Peredaran Darah

Sistem peredaran darah kita dapat mengalami gangguan, baik pada darah maupun pada alat-alat peredarannya. Gangguan itu misalnya anemia, leukemia, hemofili, hipertensi, arteriosklerosis, wasir, varises, stroke, dan AIDS.

1.             Anemia

Anemia adalah kekurangan hemoglobin dalam darah. Penyebabnya bermacam-macam, seperti kandungan hemoglobin dalam eritrosit, kurangnya jumlah eritrosit dalam darah, dan kurangnya volume darah dari volume normal. Kekurangan hemoglobin ini dapat menyebabkan kemampuan darah mengikat oksigen menjadi rendah.

Anemia dapat terjadi jika tubuh seseorang terluka dan mengeluarkan banyak darah. Kekurangan darah ini dapat diatasi dengan transfusi darah. Ada jenis anemia yang bersifat mematikan, yaitu talasemia dan sickle cell anemia (anemia sel sabit). Talasemia disebabkan kegagalan pembentukan hemoglobin akibat kerusakan gen globin. Anemia sel sabit disebabkan adanya eritrosit yang berbentuk bulan sabit. Anemia juga dapat terjadi karena kekurangan vitamin B12.

2.             Leukemia

Leukemia disebut juga sebagai kanker darah, yaitu jumlah sel darah putih yang jauh di atas normal karena pembelahan yang tak terkendali. Di samping itu, sel-sel darah putih menjadi “ganas” dan memakan sel-sel darah merah, sehingga seseorang akan mengalami anemia berat.

3.             Hemofili

Hemofili adalah penyakit darah sulit membeku. Luka sedikit saja menyebabkan darah akan mengucur terus sehingga penderita dapat mengalami kekurangan darah, bahkan dapat menyebabkan kematian. Penyakit ini bersifat menurun, diwariskan dari orang tua kepada keturunannya. Karena menurun, penyakit ini tidak dapat disembuhkan.

4.             Hipertensi

Hipertensi artinya tekanan darah di atas tekanan darah normal. Tekanan darah yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan pembuluh darah pecah atau arteri di otak tersumbat. Akibatnya, penderita akan meninggal dunia karena terkena stroke. Atau, penderita mengalami kerusakan otak. Jika otak bagian kiri yang mengalami kerusakan, penderitan akan mengalami kelumpuhan di tubuh sebelah kanan. Sebaliknya, jika otak bagian kanan yang mengalami kerusakan, penderita akan mengalami kelumpuhan di tubuh sebelah kiri. Komplikasi lain yang timbul akibat tekanan darah tinggi adalah kerusakan ginjal dan gagal jantung. Hingga kini, sebagian besar penyakit tekanan darah tinggi belum diketahui penyebabnya dan sulit diketahui secara dini.

5.             Arteriosklerosis atau aterosklerosis

Jantung mendapatkan makanan dan oksigen dari arteri yang menuju jantung. Arteri yang disebut arteri koronaria berasal dari aorta yang menuju jantung.

Seperti halnya arteri lain, arteri koronaria juga dapat menyempit karena pengerasan akibat pengendapan kolesterol. Pengerasan arteri tersebut dinamakan aterosklerosis. Selain itu, arteri juga dapat mengalami penyumbatan oleh darah yang membeku. Darah yang membeku disebut trombus. jika arteri tersumbat, berarti otot jantung kekurangan makanan dan oksigen, sehingga sebagian otot jantung mati. Keadaan demikian ini disebut infark jantung. Serangan jantung demikian sering terjadi, disertai rasa sakit yang hebat pada dada kiri dan terjadi kegagalan peredaran darah.

6.             Stroke

Stroke terjadi jika suplai darah ke otak berhenti. Stroke dapat diakibatkan oleh salah satu atau beberapa faktor, antara lain:

  1. Aterosklerosis pada pembuluh darah leher atau kepala, sehingga menghentikan aliran darah ke otak.
  2. Terbentuknya trombus pada aterosklerosis, sehingga menyumbat aliran darah menuju otak.
  3. Embolus menyumbat pembuluh arteri di otak.
  4. Pembuluh darah otak pecah, karena tekanan darah yang tinggi
  5. Adanya tumor di otak yang menyumbat aliran darah menuju otak.

7.             Varises

Varises adalah pelebaran pembuluh vena. Pelebaran vena ini disebabkan menurunnya fungsi katup pada pembuluh vena. Dalam keadaan normal katup pada pembuluh vena akan membuka untuk mengalirkan dara kembali ke jantung, dan menutup kembali setelah darah melewatinya.

Akan tetapi, jika tonus otot di sekitar pembuluh vena lemah, maka aliran darah terhenti dan darah cenderung berkumpul di dasar vena. Selanjutnya akan timbul endapan pada pembuluh vena yang menyebabkan tonjolan besar dan berkelok-kelok berwarna kebiruan. Inilah yang disebut varises. Varises banyak dialami oleh wanita hamil dan orang yang terlalu lama berdiri atau terlalu banyak jongkok.

8.             Wasir

Wasir atau ambeien atau hemoroid ialah membesarnya vena yang berada di sekitar anus. Penyebabnya adalah aliran darah yang tidak lancar, misalnya karena terlalu banyak duduk, kurang gerak, atau karena terlalu kuat mengejan.

9.             AIDS dan Defisiensi Sistem Imun

AIDS merupakan penyakit yang menyebabkan seseorang tidak memiliki sistem imun. Sistem imun atau sistem kekebalan tubuh adalah suatu sistem untuk memproteksi tubuh terhadap serangan penyakit (antigen). Manusia memiliki sistem kekebalan karena di dalam tubuh manusia terdapat sel-sel monosit yang memiliki kemampuan memfagosit kuman, serta limfosit B dan limfosit T yang memiliki kemampuan menghasilkan antibodi. Antibodi bekerja dengan cara mengikat antigen sehingga antigen tidak dapat menyerang sel-sel lain.

AIDS disebabkan oleh infeksi HIV. HIV mampu menyerang limfosit T sehingga seseorang yang terserang virus tersebut tidak memiliki kekebalan. Akibatnya, orang tersebut rentan terhadap serangan penyakit yang lain.

*************

D.          Teknologi yang Terkait dengan Sistem Peredaran Darah

1.             Golongan Darah dan Pengujian Keturunan

Golongan darah merupakan sifat yang diwariskan. Oleh sebab itu, golongan darah ayah dan ibu dapat digunakan sebagai penentu golongan darah anak. Sebaliknya, golongan darah anak dapat digunakan untuk memprediksi golongan darah orang tuanya jika terjadi sengketa mengenai siapa orang tua dari anak yang diperebutkan.

2.             Operasi Jantung dan Pembuluh Darah

Operasi jantung dan pembuluh darah pertama kali dilakukan pada tahun 1930-an. Operasi jantung mulai berkembang setelah diciptakan mesin seperti jantung pada tahun 1953. Selama operasi jantung, jantung dibuat tidak aktif. Sebagai gantinya, dipasanglah mesin jantung yang berfungsi menggantikan fungsi jantung, memompa, dan memberi oksigen ke dalam darah.

Orang yang mengalami sakit jantung koroner dapat diatasi dengan operasi bypass. Sakit jantung koroner merupakan sakit jantung karena pembuluh darah yang membawa darah ke jantung tersumbat oleh lemak dan atau garam-garaman. Operasi bypass pembuluh koroner merupakan proses pencangkokan pembuluh darah baru dari aorta menuju jantung. Pembuluh darah yang dicangkokkan ini diambil dari pembuluh darah kaki.

3.             Transplantasi Jantung

Transplantasi jantung adalah mengganti jantung pasien yang sudah rusak dengan jantung baru yang masih baik. Keberhasilan transplantasi jantung pertama kali dilakukan pada 3 Desember 1967. Dr. Christian Barnard mengambil jantung seorang pasien yaitu Louis Washkansky yang rusak dan menggantinya dengan jantung yang masih baik dari seorang wanita yang meninggal akibat kecelakaan. Operasi ini merupakan cikal bakal berkembangnya transplantasi jantung. Sampai saat ini telah banyak berhasil dilakukan transplantasi jantung ada yang masih hidup sampai 18 tahun setelah operasi. Proses transplantasi jantung mengakibatkan adanya respons penolakan atau respons imun dari tubuh resipien. Akan tetapi, para ahli mampu menekan respons imun ini dengan pemberian obat-obatan.

4.             Jantung Buatan

Implantasi jantung buatan pada pasien pertama kali dilakukan oleh Barney Clark pada 2 Desember 1982, 15 tahun setelah keberhasilan transplantasi jantung. Jantung buatan berhasil diimplantasikan pertama kali adalah jantung buatan yang diberi nama Javrik-7. Nama ini diambil dari nama pembuatnya yaitu Dr. Robert K. Javrik.

**************************

E.             Sistem Transportasi pada Hewan

1.             Sistem Transportasi Protozoa

Protozoa tidak memiliki alat transportasi khusus. Oleh karena tubuhnya hanya tersusun atas satu sel, seluruh aktivitas hidupnya dilaksanakan oleh sel itu sendiri, termasuk proses transportasinya.

Protozoa menyerap oksigen dan air melalui seluruh permukaan tubuhnya. Zat itu masuk ke dalam plasma sel. Selanjutnya, zat-zat tersebut beredar di dalam sitoplasma melalui proses difusi. Zat-zat sisa yang dihasilkan diangkut oleh plasma sel ke membran sel untuk dikeluarkan.

2.             Sistem Transportasi Porifera

Porifera memiliki sel-sel ameboid yang berfungsi mengedarkan makanan. Makanan ditangkap dan dicerna oleh koanosit, kemudian diberikan ke sel-sel ameboid. Kemudian, sel-sel ameboid mengembara ke sel-sel lain untuk mengedarkan makanannya. Makanan porifera diperoleh melalui aliran air yang melintasi ostia atau pori dan keluar melalui oskulum.

3.             Sistem Transportasi Coelenterata

Pada Coelenterata, makanan yang telah dicerna di dalam rongga gastrovaskuler langsung diserap oleh sel-sel endoderm penyusun dinding rongga gastrovaskuler. Selanjutnya, sel-sel endoderm memberikan makanan ke sel-sel ektoderm secara difusi dan osmosis. Sisa-sisa makanan dikeluarkan melalui mulutnya.

4.             Sistem Transportasi Planaria

Pada cacing tingkat rendah, seperti Planaria, makanan masuk ke dalam usus. Selanjutnya, usus bercabang-cabang ke seluruh tubuh untuk mengedarkan makanan. Usus tersebut disebut gastrovaskuler, yang berfungsi sebagai pencerna makanan dan mengedarkannya ke seluruh tubuh.

5.             Sistem Transportasi Cacing

Untuk mempelajari sistem transportasi cacing, kita ambil contoh cacing tanah. Tubuhnya terdiri atas 100 sampai 200 segmen. Cacing memiliki sistem organ tubuh lengkap, termasuk sistem transportasinya. Alat transportasinya terdiri atas:

  1. Pembuluh darah, yang terdiri dari pembuluh darah punggung (dorsal) dan pembuluh darah perut (ventral)
  2. Pembuluh kapiler, yang menghubungkan pembuluh punggung dan pembuluh perut
  3. Lengkung aorta sebagai jantung.

Cacing tanah menyerap oksigen melalui seluruh permukaan tubuhnya. Oksigen tersebut akan masuk ke dalam pembuluh darah kapiler. Selanjutnya, oksigen akan diangkut oleh darah melalui pembuluh darah punggung. Ke dalam pembuluh punggung juga masuk ke pembuluh darah dari usus yang kaya zat0-zat makanan. Selanjutnya, darah dari pembuluh punggung menuju ke lengkung aorta. Lengkung aorta berdenyut, berfungsi sebagai jantung.

Dari lengkung aorta, darah mengalir ke tubuh bagian belakang melalui pembuluh perut, darah melalui kapiler, kemudian masuk ke pembuluh punggung. Selanjutnya, darah kembali ke lengkung aorta.

6.             Sistem Transportasi Serangga

Untuk mempelajari sistem transportasi serangga, kita ambil contoh belalang. Sistem transportasi belalang terdiri atas pembuluh beruas-ruas yang menyerupai gelembung-gelembung memanjang di daerah punggung, di atas saluran pencernaan. Bagian belakang pembuluh tersebut ujungnya terbuka. Pembuluh ini berfungsi sebagai jantung. Karenanya disebut jantung pembuluh. Pada saat jantung pembuluh ini berdenyut, darah keluar dari jantung pembuluh ke bagian depan melalui aorta.

Darah keluar dari pembuluh darah. Kemudian masuk ke hemosoel. Hemosoel adalah rongga-rongga tubuh. Peredaran darah yang tidak melalui pembuluh darah disebut peredaran darah terbuka. Dari seluruh tubuh, darah masuk kembali ke jantung pembuluh melalui lubang-lubang di kanan-kiri pembuluh. Darah belalang tidak dapat mengikat oksigen, karena tidak mengandung hemoglobin. Plasma darah yang jernih ini mengandung sel-sel darah yang tidak berwarna, yang bekerja sebagai fagosit untuk membinasakan organisme asing.

Oksigen pada belalang diedarkan oleh sistem trakea. Oksigen masuk melalui stigma. Stigma berbentuk lubang masuk ke dalam trakea. Oleh trakea, oksigen, melainkan hanya berfungsi untuk mengedarkan sari-sari makanan dan sisa makanan, serta membunuh organisme asing.

7.             Sistem Peredaran Darah Ikan

Sistem peredaran darah pada ikan termasuk sistem peredaran tertutup dan tunggal. Jantung ikan terbagi menjadi 2 ruangan, yakni satu serambi dan satu bilik. Antara serambi dan bilik terdapat katup yang berfungsi mengalirkan darah satu arah dari serambi ke bilik. Darah dari seluruh tubuh yang telah banyak mengambil CO2 dari jaringan mengalir ke sinus venosus. Sinus venosus adalah struktur khusus berupa rongga penghubung pada pangkal serambi da kemudian masuk ke serambi. Dari serambi, darah mengalir ke bilik, kemudian ke konus arteriosus. Kemudian, darah masuk ke aorta ventralis menuju ke insang. Di dalam insang terjadi penukaran gas CO2 dengan O2. Darah dari insang lalu masuk ke seluruh tubuh untuk mengedarkan O2 dan sari makanan. Dari tubuh, darah kembali ke jantung melalui vena cava dan sinus venosus.

8.             Sistem Peredaran Darah Katak

Sistem peredaran darah pada katak termasuk sistem peredaran tertutup dan ganda. Jantung katak terbagi menjadi tiga ruangan, yakni serambi kiri dan serambi kanan serta satu bilik. Darah dari seluruh tubuh yang telah banyak mengambil CO2 dari jaringan mengalir ke sinus venosus dan kemudian masuk ke serambi kanan. Dari serambi kanan, darah mengalir ke bilik, kemudian darah dipompa ke luar melalui arteri pulmonalis. Selanjutnya, darah mengalir melalui: arteri pulmonalis à paru-paru àvena pulmonalisàserambi kiri. Lintasan peredaran darah ini disebut peredaran darah kecil. Kemudian, darah masuk bilik dan mengalir melalui: bilikàkonus arteriosusàaorta pulmonalisàseluruh tubuh.

9.             Sistem Peredaran Darah  Reptilia

Ada dua macam sistem peredaran pada reptilia, yaitu sistem yang terdapat pada buaya dan sistem yang terdapat pada kura-kura, kadal, dan ular.

Pada buaya, jantungnya terdiri dari 4 ruang, yaitu serambi kira dan kanan serta bilik kiri dan kanan. Antara serambi kiri dan kanan dipisahkan oleh sekat. Darah dari seluruh tubuh yang telah banyak mengambil CO2 dari jaringan mengalir ke sinus venosus dan kemudian masuk ke bilik kanan. Ada 2 macam lintasan darah dari bilik kanan, yaitu:

  1. Bilik kanan àarteri pulmonalisàparu-paruàvena pulmonalisàserambi kiri.
  2. Bilik kananàaorta kiriàbergabung dengan aorta kanan.

Antara aorta kiri dengan aorta kanan saling berhubungan ,melalui lubang yang disebut foramen, yang berfungsi untuk menyeimbangkan tekanan darah dalam jantung pada saat hewan tersebut menyelam dalam air.

Pada kura-kura, kadal, dan ular, jantungnya terdiri dari serambi kiri dan kanan, serta bilik kiri dan kanan. Antara serambi kiri dan kanan dipisahkan oleh sekat, sedangkan antara bilik kiri dan kanan tidak. Darah dari seluruh tubuh mengalir ke sinus venosusàserambi kananàbilikàarteri pulmonalisàparu-paruàvena pulmonalisàserambi kiriàbilik kiriàlengkung aortaàseluruh tubuh.

10.         Sistem Peredaran Darah Burung

Jantung burung terdiri atas 4 ruang, yaitu 2 serambi dan 2 bilik. Sistem peredaran darahnya adalah sistem peredaran ganda dan tertutup.

Darah kaya oksigen dipompa dan bilik kiri menuju seluruh tubuh melalui aorta. Di sel-sel tubuh, oksigen dibebaskan, namun karbon di0oksida diikat. Darah yang miskin oksigen namun kaya karbon dioksida ini mengalir melalui vena menuju serambi kanan dan masuk bilik kanan. Peredaran darah dari jantung ke seluruh tubuh lalu kembali ke jantung ini disebut peredaran darah besar. Dari bilik kanan, darah yang miskin oksigen namun kaya karbon dioksida dipompa agar mengalir ke paru-paru di paru-paru, karbon dioksida dilepaskan dan oksigen diikat. Darah dari paru-paru kaya oksigen masuk ke jantung lagi melalui serambi kiri. Dari serambi kiri, darah masuk ke bilik kiri. Peredaran darah dari jantung menuju paru-paru kembali ke jantung menuju paru-paru kembali ke jantung disebut peredaran darah kecil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s